Kartu Kredit Syariah

Kartu kredit syariah  hampir tidak berbeda dengan kartu kredit lainnya baik dari bentuk fisik hingga fitur yang dimilikinya. Penggunaannya pun kurang lebih sama dengan kartu kredit biasa yaitu digunakan saat bisa dilakukan untuk berbagai transaksi seperti berbelanja misalnya. Munculnya kartu kredit yang berbasis syariah sebagai bukti adanya kemajuan di dunia Islam khususnya bidang ekonomi dengan menggabungkan antara teknologi dengan ketentuan syariah. Namun ada hal mendasar yang membedakannya dengan kartu kredit lainnya yaitu sistem perjanjian yang diajukan. Cara penghitungan biaya, tujuan penggunaan kartu kredit hingga tata cara penagihan adalah akad yang harus disetujui oleh kedua pihak.

“Belajar Bagaimana Mengolah Kartu Kredit Menjadi Modal Bisnis Bersama 2500 Orang di Group Facebook? dan Bagaimana Step-Step Kartu Kredit Anda di Approve 99%?”

Daftarkan Email dan Nama Anda Klik Disini SEKARANG!”  

Ada tiga perjanjian yang diajukan oleh pihak bank penerbit untuk pengajuan Kartu kredit syariah seperti ijarah yaitu akad pembiayaan bagi pemegang kartu, qard yaitu aturan yang diperlakukan oleh pihak bank kepada pemegang kartu melalui tarik tunai dan terakhir kafalah yaitu akad yang menempatkan pihak bank sebagai penjamin atas semua kewajiban bayar yang timbul karena transaksi.

 

Perbedaannya lain kartu kredit syariah dengan kartu kredit konvensional adalah tidak adanya bunga yang dibebankan oleh pihak pengguna. Umumnya pihak bank konvensional akan mengenakan bunga hingga 4% sebagai bentuk keuntungan terhadap tagihan yang dicicil. Jika tidak dilunasi dengan segera, maka pihak bank juga akan memberikan bunga atas bunga dari sisa tagihan. Sementara Kartu kredit syariah sebagai penggantinya, nasabah hanya akan dikenakan fee yang besarnya tergantung dari sisa kewajiban. Tentu saja hal ini sangat meringankan dibandingkan kartu kredit lainnya.

 

Perjanjian atau akad juga mencakup mengenai tata cara penggunaan Kartu kredit syariah seperti tidak menggunakan kartu kredit tersebut di tempat-tempat hiburan malam seperti night club misalnya. Atau menggunakan kartu kredit untuk melakukan transaksi perjudian seperti judi online atau sebagainya. Jika nasabah juga masih bersikeras menggunakannya, dapat dipastikan kartu tersebut akan langsung ditolak di mesin EDC.

 

Hal yang menarik adalah biasanya pihak bank syariah menggunakan tata cara pendekatan kepada nasabah kartu kredit syariah yang belum membayar kewajibannya. Bank penerbit tidak akan menggunakan jasa dari pihak ketiga yang menggunakan kekerasan saat melakukan penagihan. Tujuan dari sistem pendekatan ini dimaksudkan agar nasabah juga mengerti fungsi dan batasan penggunaan kartu kredit syariah sehingga tidak berlebihan.

“Belajar Bagaimana Mengolah Kartu Kredit Menjadi Modal Bisnis Bersama 2500 Orang di Group Facebook? dan Bagaimana Step-Step Kartu Kredit Anda di Approve 99%?”

Daftarkan Email dan Nama Anda Klik Disini SEKARANG!”